Aku merangkai sedikit rangkaian kata-kata yang terlintas begitu saja di sore 6 Desember ini.
Apa kabar? Beberapa hari ini aku merasa kita jauh di jarak yang sebenarnya dekat. Hmm oke balik ke pertanyaan awal.. Apa kabar? Semestinya kabarmu baik-baik saja kalau ku simpulkan dari kepandaianmu membuatku rindu yang sepertinya belum juga berkurang padahal kita selalu dilingkaran yang sama.
Teruntuk kamu yang paling kubenci sedunia,
Aku benci sore ini aku harus menyatukan kata tiap kata di selembar surat ini semata karna aku tidak tahan untuk sekedar berbicara dan mengetahui kabarmu.
Kamu yang paling kubenci sedunia,
Masih ragu aku yang memilihmu untuk jadi masa depanku karna sifat burukku di masa lalu? Aku tau kamu tipikal orang yang serius dengan masa depanmu, terutama dibidang ilmu sekolah. Aku juga paham kamu dalam proses menolak segala kegagalan. Aku pun juga. Tapi apa kamu cuma ingin memikirkan untuk dirimu saja makanya kamu berlaku seperti ini?
Kamu lelaki keras kepala pemilik hatiku,
Sungguh betapa ingin aku menangis sampai air mataku menguras habis semua sisa-sisa pikiran tiap kali egomu membentak rasaku.
Betapa aku ingin memaki sosokku yang sedemikian bodohnya mudah terpengaruh hal-hal yang sama sekali tidak terlalu penting dan sosokku yang selalu melibatkan hati tanpa berlogika. Betapa mudahnya merencanakan sesuatu untuk perlahan dapat mengubah cerita dimasa depan. Ya, hanya sekedar mudah berencana bukan bertindak.
Kamu tau? Malam ini aku berencana menyelinap ruang kerja Tuhan. Aku mau curi buku takdir milikku dari lemariNya, mau kusobek dan bakar segala cerita yang bisa membuat aku gagal meninggalkan lengkungan senyum diwajah kedua orang tua ku dimasa depan. Juga segala cerita yang bisa membuat ku menjauh dari lelaki dungu yang masih saja keras kepala menganggap cintaku hanya sebatas kata.
Hai, lelaki sombong penghuni rumah hatiku!
Tertawalah, busungkan dadamu, sebarkan pada semua betapa hebatnya dirimu mengambil alih alam pikirku! Sombonglah! Sombongkan keberhasilanmu membuatku takut kehilanganmu.
Kamu tau seberapa kecewa tiap kali aku harus berteriak hanya dalam hati untuk memintamu untuk tidak selalu memikirkan diri sendiri? Seharusnya kamu tau, seharusnya kamu merasakan hancuran dan patahan kecewa tempat tinggalmu tinggal sendirian, hatiku.
Aku sungguh membenci caramu meyakinkanku aku bisa bahagia tanpamu disaat kamu tidak semilipun meninggalkan hatiku. Aku benci caramu menunjukkan ke semua kelalaianku dalam meyakinkanmu aku mencintaimu. Aku benci segala rasa tidak yakin yang hobinya hanya datang disaat aku berada di titik tertinggi keyakinan. Aku tau kamu bersikap seperti ini karna kamu sendiri belum yakin dengan ku. Padahal aku selalu berusaha meyakinkan kamu meski disaat kamu tidak yakin. Dan aku tau, kamu pasti hanya berpikir aku hanya pandai merangkai 'kata'. Bukan 'kita' dalam bentuk aksi. Ntahlah, aku juga benci dengan sosokku yang selalu merasa 'bukan diriku' tiap kali aku melakukan sesuatu untuk pembuktian yang direncanakan.
Aku benci.
Lelaki bodoh..
Sekarang katakan, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya aku sungguh membenci caramu meragukan itu semua?
Katakan.
Sungguh, aku benci keadaan seperti ini, aku benci diriku yang tak juga bisa membenci sikapmu yang meragukanku. Kamu yang paling kubenci sedunia, semoga kamu dilumat kesepian dalam kesendirian menghuni hatiku. Selalu, dilumat kesendirian berhuni dihatiku sedari 6 Agustus lalu hingga Tuhan bosan melihatku tersenyum.
Selamat untuk kita yang sudah berhasil bulan ini, lelaki yang selalu kubenci!
Salam,
Wanita yang tidak pernah bisa membencimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar