Rabu, 01 Mei 2013

Lagi-Lagi CIN(T)A


22.00 WIB
“Saya sayang kamu, demi Tuhan saya sayang kamu..”
“Kamu bersumpah demi Tuhanku atau Tuhanmu?”
13.00 WIB
“Hei, nunggu lama ya?”
Sosok perempuan cantik itu menggelengkan kepalanya pelan, “Gak apa-apa, kamu kan harus ibadah dulu.”
“Kita makan disini, atau…?”
“Di rumahku saja, Mamaku pasti masak makanan spesial tiap aku pulang.”
15.45 WIB
“Jadi, pekerjaanmu apa, Nak?”
“Saya bekerja di sebuah stasiun televisi, Om..”
“Oh ya? Sudah berapa lama?”
“3 tahunan kira-kira..”
Lelaki berkumis tebal itu menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah istrinya, “Bu, makanannya sudah siap kan?”
“Iya, yuk semuanya makan dulu. Jo, ajaklah pacarmu kemari, kalian pasti belum makan, kan?”
“Iya, Ma.. ayo, Riz, ikut aku ke belakang. Masakan Mamaku enak banget!”
“Err.. saya mau shalat dulu, Tante..”
“Fariz, agamamu apa?”
19.00 WIB
“Kalau sejak awal tahu bakal seperti ini, seharusnya kamu tidak usah memintaku untuk melanjutkan hubungan kita!”
“Pindahlah ke agamaku, Jo.”
“Harusnya aku sadar, sejak awal hubungan kita mustahil, Riz.”
18.00 WIB
“Maafkan kedua orangtuaku, Riz.”
“Santai aja, we’ll make this work. Dari awal hubungan kita juga aku tahu bakal ada hari seperti ini.”
Perempuan itu bersandar di bahu lelakinya, mengisyaratkan semua rasa sayang yang luar biasa besarnya, “Tapi kalau kita menikah nanti..”
“…kamu ngomong apa?”
“Kamu tidak membayangkan jika seandainya nanti kita menikah?”
“Itu masih lama sekali, Jo..”
“Lalu? Kamu punya kemungkinan kita akan berpisah, begitu?”
“Kita berbeda, Jo.”
“Itu memang sudah jelas, sejak awal. Tapi kenapa baru sekarang…?”
“Kamu gak tahu, Jo. Saya selalu membayangkan shalat berjamaah dengan istri dan anak-anak saya kelak…”
24.00 WIB
“Aku ingin memeluk kamu, perkara memeluk agama bukan pilihanku, Riz.”

Dari yang Tidak Mencintaimu.

Ini surat yang datang dari orang yang tidak mencintaimu. Orang yang tidak menginginkan sisa hidupnya dibagi bersamamu. Orang yang tidak berharap untuk berbagi mimpi-mimpinya denganmu. Orang yang tidak memikirkan kehidupanmu sepanjang waktu. Orang yang benar-benar tidak peduli dengan hal-hal yang terjadi dalam kehidupanmu kini.
Surat ini datang dari aku; orang yang tidak mencintaimu.
Anggap saja surat ini tidak dinamakan dengan sebuah “surat cinta”. Lagipula, dinamakan surat cinta berarti sudah jelas surat ini dikirim untuk orang yang dicintai. Dan aku jelas-jelas tidak mencintaimu.
..mengapa surat ini aku tulis?
Karena aku sekedar ingin menyampaikan bahwa setelah kamu pergi, aku tidak merindukanmu. Alasannya sudah jelas, karena aku tidak mencintaimu.
Aku tidak merindukan wangi yang biasa tertinggal di pakaianku beberapa saat setelah kamu mengantarku pulang. Aku tidak merindukan pesan-pesan singkat darimu yang selalu datang sesaat setelah petang menjelang, aku bahkan tidak merindukan memiliki hal-hal menyenangkan yang biasa kamu dan aku bagi berdua. Untuk apa aku merindukan semua itu? Karena sudah jelas aku tidak mencintaimu.
Bagaimana pun, aku mengirimkan surat ini hanya karena ingin membuat semuanya jelas. Bahwa aku tidak merindukanmu.
Dari orang yang tidak mencintaimu,
orang yang hampir-hampir tidak gila karena tidak merindukanmu.
P.S Tolong hilangkan semua kata tidak yang ada di surat ini. 

Ada Saatnya.


Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, seluruh tempat di kota ini seperti berbicara kembali tentang kamu. Saat-saat di mana setiap penjuru yang pernah disentuh oleh kehadiranmu, seolah memanggil kembali semua ingatan tentang kamu tanpa aku minta.

Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, setiap komponen diriku seperti masih bisa mengingat bagaimana lengan-lenganmu pernah di sana. Menempati setiap sela jemari, menyampaikan ratusan kenyamanan dalam setiap helai rambutku, dan berada tergapai dalam satu rengkuh peluk.

Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, siksa kehilangan kembali menyerang dalam sebentuk perasaan hampa. Setiap bagian dari diriku yang terasa kosong dan setengah hidup semenjak kamu pergi membawa separuh bentuk utuh aku. Aku tak ubahnya semesta, dan kau bintang-bintang yang aku rindukan.

Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, sebuah proyektor seperti memutar kembali tentang kamu di dalam ingatanku. Sebuah pengeras suara besar seperti membiarkan suaramu beresonansi dalam kepalaku. Seolah membiarkan aku mengingat kembali segala hal yang belum sempat tersampaikan, seperti hal-hal yang belum sempat dikatakan daratan pada air di pesisir pantai, sebelum ombak kembali menghempasnya ke lautan.

Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, aku kembali ditampar pada kenyataan bahwa kamu adalah satu yang paling tahu. Tentang mimpi-mimpi besarku, tentang harapan-harapan dan rencana masa depan yang pernah penuh dengan kamu di dalamnya.

Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, dan aku tahu,

Ada saatnya aku merapikan kembali semua keping memori dalam setiap penjuru kota yang menjadi penjara ingatanku tentang kamu. Ada saatnya aku mengisi perasaan hampa, dengan mencoba untuk kembali mempercayai bahagia yang pernah aku andaikan ada melalui kamu.

Ada saatnya aku tahu bagaimana harus menyerah pada cinta yang sudah seharusnya kalah. Ada saatnya aku tahu bagaimana aku harus berhenti mempertanyakan mengapa kamu harus pergi, mengapa kita harus dipisahkan keadaan.

Ada saatnya otakku berhenti meresonansikan saat-saat kamu mengatakan hal-hal menyenangkan yang pernah aku rasa benar, kemudian kembali mengingat saat-saat di mana kamu mengatakan bahwa aku bukan sesuatu yang Dia dan mereka inginkan, segalanya yang membuat aku merasa tertampar.

Ada saatnya aku tahu bahwa selain yang paling membuatku bahagia—kau adalah satu yang paling membuatku merasa sia-sia.

Ya Allah, Ya Tuhan..
Ada pengakuan yang sudah lama ingin aku akui. 
Ini, aku.

Aku mencintai dia yang menyebutMu dengan arti yang berbeda.
Aku mencintai dia yang berlutut.
Aku mencintai dia yang bernyanyi.
Aku mencintai dia yang beribadah bukan di tempat beribadah ku.
Aku mencintai dia yang beribadah di hari Minggu.
Aku mencintai dia yang berdoa dengan menggenggam kedua tangannya.
Aku mencintai dia yang bukan hambaMu.
Aku mencintai dia yang tidak mencintaiMu.
Aku sungguh mencintai dia.
Namun, jika memang Engkau tidak mencintai kami untuk tersenyum bahagia bersama. 
Berilah aku cintaMu untuk tetap setia mencintaiMu.
Dan berilah dia cintaMu untuk tetap merasa bahagia. 
Meskipun dia tidak menyembahMu.
Dan meskipun aku dan dia tak akan pernah berbagi kebahagiaan yang Engkau beri bersama.
Aku selalu berdoa untuknya dalam doa ku padaMu.

Amin.

?


Ya Tuhan, Ya Allahuakbar. 
Ada satu pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan kepadaMu. 
Iya, hanya satu. 
"Apakah jodoh selalu berarti punya banyak kesamaan dan tak diizinkan punya perbedaan?" 
Tuntun aku temukan jawabanMU ya Tuhan, ya Allahuakbar.

Selamat Datang, Selamat Tinggal.

Selamat datang..
Hari-hari yang pasti berbeda dengan hari-hari saat masih ada kita
Waktu yang pasti berbeda dengan waktu saat masih ada kita
Ketakutan terbesar ku yang sama dengan ketakutan terbesar ku saat masih ada kita

Selamat datang..
Kehendak Tuhan yang aku tau akan terjadi
Kehendak Mu yang aku belum terima
Takdir Mu tentang aku, kamu dan kita

Selamat datang..
Kita yang tak akan pernah mungkin tercipta kita
Kita yang masing-masing
Kita yang telah merasa satu harus terhapus oleh lengan takdir Mu

Selamat tinggal..
Kita.


Tertanda, aku yang selalu menganggap kita masih hidup.