Banyak cerita yang selalu ingin aku bagi. Banyak kata-kata yang selalu ingin aku ucapkan untuk kamu.
Tapi kali ini..
Biarlah Tuhan yang menekan 'Send'- nya :)
Jumat, 22 Februari 2013
Tanpa Kamu Tahu
Tanpa kamu tahu, setiap kali kita menyudahi temu lahirlah rindu yang baru.
Tanpa kamu tahu, aku ingin kamu berbalik menarik tanganku ketika kaki ini mulai berlalu. Dayaku terlalu ciut untuk tetap disitu.
Tanpa kamu tahu, namamu selalu kuselipkan dalam setiap doa. Aku percaya, Tuhan di surga mendengarnya.
Tanpa kamu tahu, aku tak ingin matamu sampai tahu kalau aku selalu memperhatikan gerak-gerikmu.
Tanpa kamu tahu, mataku tak akan lelah berhenti mencari tahu keberadaanmu.
Tanpa kamu tahu, seharian aku kebingungan merangkai kata hanya untuk ungkapkan cinta.
Tanpa kamu tahu, dibalik bantalku ada simpanan air mata yang kutampung disitu setiap kali aku terluka karena ulahmu.
Tanpa kamu tahu, aku selalu tersenyum penuh malu dibelakang punggungmu setiap kata-kata manis terucap dari bibirmu.
Tanpa kamu tahu, diammu itu perlahan-lahan mampu membunuhku.
Tanpa kamu tahu, aku pernah ragu. Tapi seluruh hatiku bilang, ragu itu sebutir debu dan ternyata percayaku lebih kuat dari pada itu.
Tanpa kamu tahu, sapa darimu itu seperti tambahan nyawa bahagia.
Tanpa kamu tahu, aku sering memohon pada waktu agar membuat mu berubah. Berubah untuk tidak selalu cuek :|
Tanpa kamu tahu, tanpa hadirmu setengah pikiranku terbang mencarimu dan setengahnya lagi memikirkanmu tanpa henti.
Tanpa kamu tahu, lagu yang kunyanyikan didepanmu adalah sepenuhnya isi hatiku.
Tanpa kamu tahu, kamu lebih istimewa dari segala yang kusuka.
Tanpa kamu tahu, ucapanmu bisa jadi ekspektasi yang suatu hari bisa melukai hati.
Tanpa kamu tahu, aku pernah cemburu. Seluruh mataku jadi saksi, kamu lebih menjadi 'kamu' dibanding denganku.
Tanpa kamu tahu, dulu rasa ini pernah kuingkari. Ternyata dia bertumbuh jadi sesuatu yang tak terprediksi. Ya, aku jatuh hati.
Tanpa kamu tahu, aku tak pernah bisa lupa setiap hal kecil yang kita lalui bersama meskipun di depanmu aku pura-pura garuk kepala.
Tanpa kamu tahu, aku iri. Dengan mereka yang selalu bisa membuatmu banyak bercerita melebihi denganku.\
Tanpa kamu tahu, aku memang jarang bertanya tentang mu. Aku lebih suka kamu bercerita tanpa harus aku bertanya.
Tanpa kamu tahu, dengan adanya poin diatas. Aku merasa ada dalam bagian hidupmu.
Tanpa kamu tahu, meski aku tak bilang apa-apa bukan berarti aku tak merasakan apa-apa.
Tanpa kamu tahu, aku menunggu suaramu hadir berbisik lewat telingaku.
Tanpa kamu tahu, masih banyak yang kamu tak tahu tersimpan dalam kepala dan hatiku.
Tanpa kamu tahu, seberarti itu dirimu hingga bisa menyumbangkan kehilangan yang begitu menyesakkan ketika hadirmu tak terasa.
Tanpa kamu tahu, dibalik apa yang semua mereka bilang percuma aku melakukannya dengan rela.
Tanpa kamu tahu, aku sering meminta pada semesta agar selalu menyatukan kita.
Tanpa kau tahu, aku mati-matian menjaga hati.
Tanpa kamu tahu, aku menunggu didepan hatimu untuk dibukakan pintu sejak jutaan detik lalu.
Tanpa kamu tahu, aku begitu malu untuk sekedar menyapamu lebih dahulu.
Tanpa kamu tahu, ada satu orang di dunia ini yang begitu sering memikirkanmu. Ya, orang itu aku.
Tanpa kamu tahu, ada begitu banyak hal-hal sederhana tentangmu yang begitu melekat dikepala karena terasa istimewa.
Tanpa kamu tahu, aku selalu menyisakan ruang meskipun aku tak pernah bilang.
Tanpa kamu tahu, aku juga ingin jadi prioritas utama hatimu.
Tanpa kamu tahu, kini sesak hatiku. Muncul begitu banyak ragu, bahwa kita takkan bersatu nantinya.
Tanpa kamu tahu, aku selalu berdoa agar setiap aku membuka mata kau ada disana.
Tanpa kamu tahu, kaulah objek dari setiap tulisanku,
dan mungkin berbaris baris ‘Tanpa Kamu Tahu’ ini salah satunya.
Rabu, 20 Februari 2013
Entah
Ada segaris panjang hela menyusup lewat dada.
Ada jeda yang terlahir sempurna sebagai perantara.
Ada protes panjang telinga yang menganggap ini hanya keonaran saja.
Ada musikalisasi bebunyian kecewa dari kita yang berpura baik-baik saja.
Ada bias-bias luka yang mulai hadir seperti kaca disaat kaki melangkah kemana saja.
Ada tiada yang di agung-agungkan mereka, tentunya karena cemburu pada kebersamaan kita.
Aku hanya terdiam, begitu pun kamu yang bungkam.
Jika lebih baik menyeka tangis sendiri-sendiri, bahagia yang pernah kau pernah berikan dulu hilangkah di sakuku? Kemana mereka? Ada apa dengan kita?
E n t a h.
Entahlah. Ya, entah lah dari mana bisa aku merajut kata per kata seperti di atas. Mungkin karena pengaruh cuaca sore ini. Mendung. Dingin. Entah lah kenapa perasaan ini sangat amat tak menetu. Ya, sama seperti cuaca sore ini. Mungkin kamu, penyebabnya. Tunggu.. Aku tak sedang menyalahkanmu. Aku hanya sedang berusaha menyampaikan apa yang hanya ingin aku sampaikan lewat aksara ini.
Apa kamu merasa akhir-akhir ini kita sedang berada di fase dimana saling mengabaikan? Fase dimana kita sibuk dengan kesibukkan satu sama lain? Sibuk menyibukkan diri sendiri.
Sepertinya memang aku saja ya yang merasa seperti ini.Ya, aku sedang berusaha mengabaikan kamu yang diam-diam tengah nyaman mengabaikanku. Aku pun juga tak mau kalah, aku juga sedang dalam usaha menyibukkan diriku untuk terbiasa dengan kesibukkan mu mengabaikanku. Lalu, apa? Aku tidak gagal.
Aku paksa untuk tidak peduli dengan pengabaianmu. Berulang kali aku sangkal perasaan ini, tapi gagal. Aku amatir dalam menyembunyikan perasaan. Melihat kamu yang dibuat mereka tersenyum bahkan tertawa melebihi saat kamu denganku sungguhlah pemandangan yang sangat sulit diterima logika dan hati. Kenapa? Aku tidak cemburu, sayang.
Kosa Kita
Hanya matamu yang bisa mengenalkanku pada cinta. Hanya nafasmu pemompa paru-paruku. Hanya suaramu, harmoni yang bisa menidurkan segala kecewa. Hanya wangi tubuhmu, aroma kesukaan yang membuat indera penciumanku selalu menunggu. Hanya senyumanmulah yang setara berkilo-kilo gula. Hanya karena senyummu melebar, jantungku pun bisa ikut berdebar. Hanya tawamu pemasok bahagiaku. Hanya air matamu, pabrik air mataku. Hanya gerak-gerikmu, hal antik yang paling mengusik. Hanya jemarimulah borgol terhangat yang membuat pergelangan tanganku rela dipenjara selamanya.
Hanya berada di sebelahmulah posisi ternyamanku. Hanya melukai hatimu, pekerjaan yang paling dibenci hati. Hanya sapa darimu yang mengusir musim dingin di ujung bibirku. Hanya namamu definisi dari rasa paling teristimewa di seantero semesta, cinta. Hanya diammu yang memberisikkan hatiku, meneriakkan tanya, dan melahirkan rindu. Hanya tempat dimana kakimu berpijak, rinduku yang beranakpinak segera mengajak kaki ikut bergerak. Hanya kamu peracik pola pikirku, untuk selalu memikirkan namamu. Hanya kamu yang kurasa pantas jadi pendampingku kelak, meski kadang kelihatannya aku mengelak. Hanya lipatan jemarimu yang selalu kutunggu, membayangkan namaku ikut tersebut dalam doamu. Hanya saat bertemu denganmu, aku rela berlomba dengan waktu sambil mengatur irama nafas yang beradu.
Ya, hanya denganmu koleksi rasa bisa semudah ini berformula jadi kata. Aku tak mau nama yang lainnya untuk melengkapiku menjadi kita. Aku tak mau sesiapa selain kamu yang kuberi asupan cinta. Aku tak mau meneggak “tidak” dari mulutmu, karena kupastikan “iya”-mu akan membawa kita ke stasiun bahagia. Senyum kita adalah racikan termanis yang dihadiahi oleh Pencipta. Semoga Ia suka dengan senyuman bahagia kita, dan dengan segera menyautkan doa lalu menyatukan kita. Padaku terisi semua himpunan cerita tentang satu nama. Padaku tak ada lagi kata selain kamu. Kuharap begitupun denganmu.
Sehingga kosa kata kamu dan aku berformula menjadi kita.
He Heals Me
Told him my biggest secret
And he told me four.
He smiled at me and said that makes me love you more
And then he made me laugh
And I knew it was a sign
That he was a man,
That I wanted in my life
And with every passing day
I feel more and more of that way
He heals me
He knows the real me
And he accepts me, he never hurts me
I can play him songs, all through the night,
And he will listen to every line,
And even when I’m wrong, he is still kind
He chooses his words wisely when he tells me I’m not right.
And yes he is a beautiful man,
But he is also a beautiful friend
The moment that we met, he made me smile.
He has so much compassion in his eyes
I have no idea, how long he’ll be here
A season or a lifetime, forever or a year
But for the first time in my life I’m not worried about the future
Because we have such a wonderful time when we’re together
However things turn out, it’s all right
Cause he’s already changed my life.
And he told me four.
He smiled at me and said that makes me love you more
And then he made me laugh
And I knew it was a sign
That he was a man,
That I wanted in my life
And with every passing day
I feel more and more of that way
He heals me
He knows the real me
And he accepts me, he never hurts me
I can play him songs, all through the night,
And he will listen to every line,
And even when I’m wrong, he is still kind
He chooses his words wisely when he tells me I’m not right.
And yes he is a beautiful man,
But he is also a beautiful friend
The moment that we met, he made me smile.
He has so much compassion in his eyes
I have no idea, how long he’ll be here
A season or a lifetime, forever or a year
But for the first time in my life I’m not worried about the future
Because we have such a wonderful time when we’re together
However things turn out, it’s all right
Cause he’s already changed my life.
(He heals me - India Arie)
Selasa, 19 Februari 2013
Pembenci Lengan Takdir
Aku baru tahu kalau takdir itu adalah sesuatu yang Maha Bercanda.
Saat ini lengan-lengan takdir sedang bercanda tentang kita, namun sayang sekali selera humorku dan dia berbeda. Sungguh. Hal ini seharusnya lucu, lelucon yang ia lontarkan. Kamu ingin mendengar lelucon yang tidak lucu itu?
Bahwa terkadang dua orang terlihat seperti diciptakan untuk sempurna bagi satu sama lain, namun tidak ditakdirkan untuk bersama.
Menyedihkan sekali, kan? Mengapa sempurna bagi satu sama lain saja tidak cukup? Mengapa harus juga sempurna dengan lengan-lengan takdir?
Aku percaya kita sempurna jika bersama. Seperti dua garis yang bergerak beriringan. Sama, satu irama, satu nada, satu tujuan. Hanya saja lengan-lengan takdir seperti tak membiarkan kita berakhir di satu titik temu. Ia seolah membelokkan kamu dan aku ke arah yang berbeda.
Aku seperti gila karena menginginkanmu untuk selalu bersama sampai sang waktu pensiun. Dan mungkin karena itu lengan-lengan takdir tidak suka. Padahal apa salahnya jika aku benar mencintaimu dengan benar-benar?
Katakan aku membenci takdir semenjak aku mengenalmu. Aku membencinya karena aku tidak tahu mengapa ia membiarkan kita dipertemukan jika pada akhirnya nanti kita harus meninggalkan satu sama lain kemudian meninggalkan luka bekas.
Untuk memberikan aku sebuah pelajaran? Omong kosong.
Pelajaran untuk menjadi lebih kuat dan menerima? Mendengarnya saja aku ingin tertawa.
Memangnya tanpa kamu aku menjadi lebih kuat di sebelah mana? Memangnya tanpa kamu aku menjadi seseorang yang mampu menerima takdir? Tidak.
Bahkan seluruh komponen yang ada di tubuhku menganggap kamu adalah takdirku. Takdir yang benar, nyata, tak fana. Takdir yang diciptakan untuk beriringan, seperti dua garis pada satu titik temu. Bukan takdir yang diciptakan hanya untuk sekedar bersinggungan, tak ubahnya tempat yang dijadikan persinggahan.
Aku mencintaimu, maka aku membenci takdir yang tidak membiarkan kamu dan aku satu. Bersama.
Langganan:
Komentar (Atom)
