Selasa, 13 November 2012

Namaku, Janji.


Sayang,

apa kabarmu di sana? apa masih mengingatku dengan baik? hih, kau bercanda saja. aku ini Janji, ingat tidak? jangan bilang kamu sudah pikun, sayang. meski usiamu usia yang masih ingin main-main, tapi aku yakin usiamu juga bukan usia pikun. 
beberapa hari ini, aku seperti merasa orang paling bodoh. aku merasa akulah orang terdekatmu, tapi mungkin cuma akulah yang paling jauh mengerti jalan pikirmu. anggaplah aku selalu salah dan kau yang benar. tiap detik aku lewati dengan takut, takut kehilangan dan dihantui sepi. tiap detik, namaku semakin memudar, tergantikan oleh keegoisan kita. 
aku ingin kita berteman dengan Sabar dan Pengertian. demi lautan terdalam dan gunung tertinggi, aku menyayangimu dan takutku semakin menjadi ketika ego memisahkan. tolong sayang, ajari aku untuk bersahabat dengan Sabar dan Pengertian. beri aku contoh bagaimana namaku semakin kuat, untuk pada suatu saat aku mengalahkan lautan dan gunung itu. Biarkan aku sejenak bertapa dalam Gua Kedewasaan agar aku tak takut gelap lagi.
 
demi rindu akan sosok perangkai kita  yang tak terbendung ini, akan kita lahirkan anak, bernama Restu. biar dia yang akan selalu menemani hari kita sampai tua nanti. ah, tentu saja sampai kita berjalan dengan tumpuan tongkat Kebijaksanaan.
 
sudah malam, ya. jadi, maukah kamu mengajariku? bukankah langkah kita ke depan lebih berat? Ajari aku. Ajari aku, Harapan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar