Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, seluruh tempat di kota ini seperti berbicara kembali tentang kamu. Saat-saat di mana setiap penjuru yang pernah disentuh oleh kehadiranmu, seolah memanggil kembali semua ingatan tentang kamu tanpa aku minta.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, setiap komponen diriku seperti masih bisa mengingat bagaimana lengan-lenganmu pernah di sana. Menempati setiap sela jemari, menyampaikan ratusan kenyamanan dalam setiap helai rambutku, dan berada tergapai dalam satu rengkuh peluk.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, siksa kehilangan kembali menyerang dalam sebentuk perasaan hampa. Setiap bagian dari diriku yang terasa kosong dan setengah hidup semenjak kamu pergi membawa separuh bentuk utuh aku. Aku tak ubahnya semesta, dan kau bintang-bintang yang aku rindukan.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, sebuah proyektor seperti memutar kembali tentang kamu di dalam ingatanku. Sebuah pengeras suara besar seperti membiarkan suaramu beresonansi dalam kepalaku. Seolah membiarkan aku mengingat kembali segala hal yang belum sempat tersampaikan, seperti hal-hal yang belum sempat dikatakan daratan pada air di pesisir pantai, sebelum ombak kembali menghempasnya ke lautan.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, aku kembali ditampar pada kenyataan bahwa kamu adalah satu yang paling tahu. Tentang mimpi-mimpi besarku, tentang harapan-harapan dan rencana masa depan yang pernah penuh dengan kamu di dalamnya.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, dan aku tahu,
Ada saatnya aku merapikan kembali semua keping memori dalam setiap penjuru kota yang menjadi penjara ingatanku tentang kamu. Ada saatnya aku mengisi perasaan hampa, dengan mencoba untuk kembali mempercayai bahagia yang pernah aku andaikan ada melalui kamu.
Ada saatnya aku tahu bagaimana harus menyerah pada cinta yang sudah seharusnya kalah. Ada saatnya aku tahu bagaimana aku harus berhenti mempertanyakan mengapa kamu harus pergi, mengapa kita harus dipisahkan keadaan.
Ada saatnya otakku berhenti meresonansikan saat-saat kamu mengatakan hal-hal menyenangkan yang pernah aku rasa benar, kemudian kembali mengingat saat-saat di mana kamu mengatakan bahwa aku bukan sesuatu yang Dia dan mereka inginkan, segalanya yang membuat aku merasa tertampar.
Ada saatnya aku tahu bahwa selain yang paling membuatku bahagia—kau adalah satu yang paling membuatku merasa sia-sia.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, setiap komponen diriku seperti masih bisa mengingat bagaimana lengan-lenganmu pernah di sana. Menempati setiap sela jemari, menyampaikan ratusan kenyamanan dalam setiap helai rambutku, dan berada tergapai dalam satu rengkuh peluk.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, siksa kehilangan kembali menyerang dalam sebentuk perasaan hampa. Setiap bagian dari diriku yang terasa kosong dan setengah hidup semenjak kamu pergi membawa separuh bentuk utuh aku. Aku tak ubahnya semesta, dan kau bintang-bintang yang aku rindukan.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, sebuah proyektor seperti memutar kembali tentang kamu di dalam ingatanku. Sebuah pengeras suara besar seperti membiarkan suaramu beresonansi dalam kepalaku. Seolah membiarkan aku mengingat kembali segala hal yang belum sempat tersampaikan, seperti hal-hal yang belum sempat dikatakan daratan pada air di pesisir pantai, sebelum ombak kembali menghempasnya ke lautan.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, aku kembali ditampar pada kenyataan bahwa kamu adalah satu yang paling tahu. Tentang mimpi-mimpi besarku, tentang harapan-harapan dan rencana masa depan yang pernah penuh dengan kamu di dalamnya.
Ada saat-saat di mana aku melupakanmu, dan aku tahu,
Ada saatnya aku merapikan kembali semua keping memori dalam setiap penjuru kota yang menjadi penjara ingatanku tentang kamu. Ada saatnya aku mengisi perasaan hampa, dengan mencoba untuk kembali mempercayai bahagia yang pernah aku andaikan ada melalui kamu.
Ada saatnya aku tahu bagaimana harus menyerah pada cinta yang sudah seharusnya kalah. Ada saatnya aku tahu bagaimana aku harus berhenti mempertanyakan mengapa kamu harus pergi, mengapa kita harus dipisahkan keadaan.
Ada saatnya otakku berhenti meresonansikan saat-saat kamu mengatakan hal-hal menyenangkan yang pernah aku rasa benar, kemudian kembali mengingat saat-saat di mana kamu mengatakan bahwa aku bukan sesuatu yang Dia dan mereka inginkan, segalanya yang membuat aku merasa tertampar.
Ada saatnya aku tahu bahwa selain yang paling membuatku bahagia—kau adalah satu yang paling membuatku merasa sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar