Ada segaris panjang hela menyusup lewat dada.
Ada jeda yang terlahir sempurna sebagai perantara.
Ada protes panjang telinga yang menganggap ini hanya keonaran saja.
Ada musikalisasi bebunyian kecewa dari kita yang berpura baik-baik saja.
Ada bias-bias luka yang mulai hadir seperti kaca disaat kaki melangkah kemana saja.
Ada tiada yang di agung-agungkan mereka, tentunya karena cemburu pada kebersamaan kita.
Aku hanya terdiam, begitu pun kamu yang bungkam.
Jika lebih baik menyeka tangis sendiri-sendiri, bahagia yang pernah kau pernah berikan dulu hilangkah di sakuku? Kemana mereka? Ada apa dengan kita?
E n t a h.
Entahlah. Ya, entah lah dari mana bisa aku merajut kata per kata seperti di atas. Mungkin karena pengaruh cuaca sore ini. Mendung. Dingin. Entah lah kenapa perasaan ini sangat amat tak menetu. Ya, sama seperti cuaca sore ini. Mungkin kamu, penyebabnya. Tunggu.. Aku tak sedang menyalahkanmu. Aku hanya sedang berusaha menyampaikan apa yang hanya ingin aku sampaikan lewat aksara ini.
Apa kamu merasa akhir-akhir ini kita sedang berada di fase dimana saling mengabaikan? Fase dimana kita sibuk dengan kesibukkan satu sama lain? Sibuk menyibukkan diri sendiri.
Sepertinya memang aku saja ya yang merasa seperti ini.Ya, aku sedang berusaha mengabaikan kamu yang diam-diam tengah nyaman mengabaikanku. Aku pun juga tak mau kalah, aku juga sedang dalam usaha menyibukkan diriku untuk terbiasa dengan kesibukkan mu mengabaikanku. Lalu, apa? Aku tidak gagal.
Aku paksa untuk tidak peduli dengan pengabaianmu. Berulang kali aku sangkal perasaan ini, tapi gagal. Aku amatir dalam menyembunyikan perasaan. Melihat kamu yang dibuat mereka tersenyum bahkan tertawa melebihi saat kamu denganku sungguhlah pemandangan yang sangat sulit diterima logika dan hati. Kenapa? Aku tidak cemburu, sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar